Selasa, 29 Juni 2010

Liburan Lokal










Tahun ini, kami bersyukur bisa liburan bersama. Tidak perlu ke luar Kalimantan. Cukup liburan dengan jalan-jalan di Kalimantan Timur. Kami berangkat pukul 07.00 pagi dari Balikpapan. Honda Freed kami penuh dengan barang bawaan; 2 tas besar pakaian, 1 tas makanan kecil, 1 toples kripik singkong & pisang dan 1 kresek buah apel. Tak lupa obat-obatan seperlunya seperti obat batuk pilek dan multivitamin.



Sepanjang jalan di Balikpapan cuaca sangat cerah. Kami ber-istirahat sejenak di KM 50 tepatnya di Warung Tahu Sumedang. Segelas jeruk hangat dan 2 potong ubi goreng menambah suasana hangat sambil melemaskan otot. Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Bontang. Sepanjang perjalanan, kami melihat beberapa pemandangan yang indah.


Sekitar jam 10.00 kami sampai di kota Samarinda. Tentunya kami harus melewati kota Samarinda dahulu sebelum sampai di kota Bontang. Dari Samarinda, kami melanjutkan perjalanan kembali. Tapi karena macet dan sesaknya Samarinda, kami membutuhkan waktu 1 jam hanya untuk melewati padatnya lalu lintas di Samarinda.

Akhirnya setelah istirahat sejenak di pom bensin poros Samarinda Bontang, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel Equator di komplek pupuk kaltim. Setelah berputar hampir 30 menit akhirnya sampai juga akhirnya. Setelah check in di Reception yang sepi akhirnya kami di berikan kunci nomor bungalow 1250.

Surprice dan sedikit kecewa, kami sudah bayangkan type bungalow adalah hunian yang terpisah dengan bangunan induk hotel dan tentunya mewah. Ternyata akomodasinya tidak lebih dari mes perusahaan tambang. Bangunan terbuat dari kayu yang terdiri dari 3 kamar tidur, 2 kamar mandi. Fasilitas yang ada adalah 1 ruang keluarga, dapur dengan aksen semi bar dan meja makan dengan 4 kursi. Persis seperti kami sekeluarga. Sayang, selain bangunan lama, karpetnya bau serta perlengkapan kamar mandi yang tidak bekerja dengan baik, lampu di luarpun terkesan redup dan mengerikan. Belum lagi yang ratenya lumayan mahal. Akhirnya kamu putuskan check out lebih cepat.

Akhirnya kekecewaan kami terobati dengan suasana yang sangat indah di Bontang Kuala. Rumah makan diatas air yang sangat eksotis serta menu makanan yang sangat lezat. Karena sepanjang jalan diatas air terbuat dapi papan kayu ulin yang ditata rapi, ojek adalah pilihan kami satu-satunya. Kami berempat naik 2 ojek.

Luar biasa, itulah kata yang pertama kali terucap. Sunnguh indah pemandangan hutan bakau di seberang air laut yang jernih. Terkadang nampak ikan-ikan kecil yang berenang di permukaan. Di kejauhan nampak pabrik pupuk kaltim yang terkenal itu.

Setelah pusa menikamati makanan serba laut yang lezat dan puas memandang ciptaan Tuhan yang amat sempurna, akhirnya kami meninggalkan Bontang Kuala menuju Sangatta.

Sepanjang perjalanan menuju Sangatta kami disuguhi hutan dikiri kanan jalan yang meliuk-liuk dan naik turun. Kadang ada ngeri jika berpapasan dengan truk truk besar yang melewati jalan raya yang tergolong sempit untuk kelas jalan Trans Kalimantan.

Alhirnya kami sampai di Sangatta pukul 14.00, lansung check in di Hotel Royal Victoria. Hotel ini tergolong baru dan yang terbaik saat ini di Sangatta. Letaknya yang strategis di jalur jalan utama menuju area perkantoran pemerintahan di bukit pelangi. Hotel ini cukup padat okupasinya karena selain masih baru, hotel ini tergolong modern dan mewah.

Sabtu, 26 Juni 2010

Anna dan Reza

Acara perpisahan kelas IX SMPIT Istiqamah Balikpapan di Hotel Grand tiga Mustika




Reza sedang membacakan award bagi siswa perprestasi




Pengumuman pemenang





Minggu, 13 Juni 2010

Akekah nya Ani

Setiap bayi yang lahir wajib hukumnya untuk di tebus. Salah satu ajaran menebus atas kelahiran bayi ini dengan cara Akekah. Untuk bayi laki-laki biasanya di wajibkan menyembelih 2 ekor kambing sedang jika bayi perempuan maka cukup 1 ekor kambing. Biasanya akekah ini di laksanakan 7 hari setelah kelahiran si Anak. Walaupun hukumnya wajib, namun Allah masih memberikan keleluasaan sampai orang tua si anak mampu, jika belum maka acara akekah ini bisa ditunda. Dalam acara aqeqah biasanya sekaligus pengumuman nama si bayi. Karena nama adalah do'a dan harapan maka sangat di syarankan agar setiap orang tua memberikan nama anak dengan nama yang baik dan tidak memalukan.

Bahkan seiring perkembangan zaman bahkan nama anak sekarang lebih cenderung ke barat-baratan walaupun itu lebih karena alasan komersial dan meniru bintang idola. Nama Micheal dan Melanie akan terdengar lebih modern bila di bandinng dengan Bejo atau Paiem misalnya. Ada pepatah apalah arti sebuah nama. Namun demikian nama sangat melekat pada orang tersebut maupun keluarga dan kerabatnya.

Diluar negeri nama atau nama paggilan sering terlihat bagus walaupun kalau di terjemahkan ke dalam baha Indonesia sedikit asing. Petenis terkenal namanya Tiger Wood kalau diartikan dalam bahasa Indonesia jadi Macan Pohon.

Kembali lagi bahwa sebaik-baik nama adalah do'a dan harapan.

Sabtu, 12 Juni 2010

Wisata Lokal ke Pulau Kumala

Kaltim yang kaya akan kota-kota alami akhirnya menggrakkan hati kami sekeluarga untuk liburan di Balikpapan dan Sekitarnya. Setelah berhari Raya di rumah om Upik di Samarinda akhirnya kami sekeluarga sepakat menuju Pulau Kumala di Tenggarong Kutai Kartanegara.

Konon, Kutai Kartanegara adalah kabupaten terkaya di Inonesia. Ini bisa di buktikan dengan pembangunan jalan rayanya menggunakan semen dan bukan aspal. Dari sisi pembangunan pasti mahal namun low maintenance tentunya. Sepanjang jalan sekitar sungai Mahakam di Tenggarong jalanan lebar dan mulus. Selain itu jembatan yang mirip "golden gate" menambah sentuhan modern di kota kecil ini.

Maklum di kabupaten ini semua kekayaan alam hampir semuanya ada, mulai dari hasil pertanian, tambang batu bara, minyak sampai gas. Sehingga jika di sebut kabupaten terkaya di Indonesia rasanya masuk akal.

Tujuan utama kami adalah Pulau Kumala. Dulu pulau ini sengaja di buat untuk tempat rekreasi yang bergengsi di Kalimantan Timur. Sarana yang di sediakan adalah, Kereta Gantung, SKY Tower, Kereta Api, Kolam Renang, dan wisata budaya tentunya.

Seiring berjalannya waktu, sayang sekali kereta gantung nggak bisa di operasikan lagi. Padahal ini maskot wisata Kukar saat itu. Akhirnya kami menyebarang dengan jasa peruhi kecil yang disebut "ketinting". Ngeri bagi orang awam macam saya, tapi rasa ngeri itu dapat dikalahkan dengan rasa penasaran "keajaiban" Pulau Kumala.